Kabar Wilayah

Kanwil III KPPU Diskusi terkait Penyebab Mahalnya Telur Ayam Ras dengan Dispernakan Bandung Barat

21 Januari 2025

Ngamprah (21/1) – Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa harga telur ayam ras naik 3,41% hingga pekan kedua Januari 2025 dibandingkan Desember 2024. Di Provinsi Jawa Barat, kenaikan harga komoditas telur ayam ras menjadi penyumbang inflasi terbesar pada Desember 2024 yakni sebesar 0,35% (m-to-m) dengan andil inflasi telur ayam ras 0,10%. Merespons kondisi tersebut, Bidang Kajian dan Advokasi Kanwil III KPPU melakukan diskusi dengan Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) Kabupaten Bandung Barat dalam rangka identifikasi penyebab mahalnya harga telur ayam ras tersebut. Wiwin Aprianti selaku Plt. Kepala Dispernakan Kabupaten Bandung Barat yang didampingi oleh jajarannya menyambut baik serta memberikan gambaran terkait peternakan ayam petelur di Bandung Barat. “Sentra peternakan ayam petelur berada di Gunung Halu, Cihampelas, Cipatat, Ngamprah, dan Cipeundeuy dengan total 200 rumah tangga usaha peternakan. Total produksi telur ayam ras tahun 2024 sebanyak 1.249 ton,” terang Wiwin Lebih lanjut dijelaskan bahwa rantai pasok untuk tata niaga telur ini terdiri atas peternak, pengepul, grosir, pedagang kecil, hingga akhirnya sampai ke konsumen dengan margin terbesar di tingkat agen/distributor sebesar 5-15%. Isu utama mahalnya telur ayam ras adalah jumlah produksi yang belum memenuhi kebutuhan, fluktuasi harga pakan, hingga infrastruktur distribusi yang kurang memadai. Solusinya, perlu ada peningkatan peran pemerintah berupa pendampingan teknis, penyebaran bibit ayam petelur berkualitas, hingga penyediaan sarana dan prasarana peternakan yang lebih optimal. (aa)

Gambar Berita
Thumbnail 1
Thumbnail 2
Thumbnail 3

Bagikan Halaman