Kabar Wilayah

Kantor Wilayah VI KPPU Makassar Menghadiri Rilis Indikator Strategis Bulan Oktober Tahun 2025 Yang Diselenggarakan BPS Provinsi Sulawesi Selatan

03 November 2025

Makassar (3/11) – Plt. Kepala Kantor Wilayah VI KPPU Makassar, Dahliana Tanur turut hadir memenuhi undangan BPS Provinsi Sulawesi Selatan dalam kegiatan Rilis Indikator Strategis Provinsi Sulawesi Selatan bulan Oktober Tahun 2025. Pada rilis tersebut memaparkan terkait perkembangan ekonomi dan sosial daerah periode Oktober 2025, penyampaian data perkembangan Indeks Harga Konsumen, Nilai Tukar Petani, Transportasi, Ekspor Impor, Pariwisata, dan Luas Panen serta Produksi Padi. Kegiatan dibuka langsung oleh Kepala BPS Provinsi Sulsel, Aryanto, berlangsung di Kantor BPS Provinsi Sulawesi Selatan Jl. Haji Bau No. 6 Makassar. Dikemukan Aryanto bahwa secara umum, perekonomian Sulsel bergerak cukup stabil. Inflasi terkendali, sektor pertanian menunjukkan hasil positif, sementara aktivitas ekspor-impor dan pariwisata masih berfluktuasi menyesuaikan kondisi pasar. BPS mencatat, pada Oktober 2025 Sulawesi Selatan mengalami inflasi bulanan sebesar 0,10 persen, dengan inflasi tahunan mencapai 2,98 persen dan inflasi tahun kalender 2,42 persen. Penyumbang utama inflasi bulanan datang dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, dengan andil sebesar 0,31 persen, terutama disebabkan oleh kenaikan harga emas perhiasan. Secara tahunan, inflasi masih dipengaruhi oleh kenaikan harga beras pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil 1,43 persen, serta emas perhiasan dengan andil 0,93 persen dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Deputi Direktur BI Sulsel, Wahyu Purnama menyampaikan bahwa Pemrov Sulsel harus segera mulai menyusun langkah strategis untuk mengantisipasi potensi kenaikan inflasi menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026. Terdapat kondisi adanya fenomena kenaikan harga daging ayam dan telur ayam sejak perayaan Maulid Nabi yang tidak kunjung mengalami penurunan harga. Menanggapi hal tersebut Dahliana Tanur mengemukakan bahwa harga daging ayam dan telur ayam di tingkat peternak yang mulai mengalami kenaikan sejak beberapa pekan sebelumnya, berdasarkan hasil penelitian dan pengumpulan data serta informasi oleh KPPU disebabkan oleh naiknya biaya pokok produksi. Kenaikan harga ini dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan daging ayam dan telur ayam di masyarakat. Demand saat ini memang mengalami kenaikan. Keperluan daging ayam meningkat, karena adanya hajatan warga, perayaan Maulid Nabi dan supply kebutuhan dapur pada program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Gambar Berita

BAGIKAN HALAMAN