Kabar Wilayah

Ekonomi Jawa Barat Sedikit ‘Menggigil’, Penurunan Harga Bahan Pokok Menjadi Pemicunya

20 Februari 2026

Bandung (2/2) – Mengawali tahun 2026, Jawa Barat merasakan penurunan sejumlah harga barang kebutuhan pokok yang mengakibatkan deflasi 0,09% secara month to month (m-t-m). Hal tersebut dinyatakan dalam rilis Berita Resmi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat yang disampaikan langsung oleh Ketua Tim Statistik Distribusi BPS Provinsi Jawa Barat, Ninik Anisah, di Aula Lantai 5 Kantor BPS Provinsi Jawa Barat.


Tim dari Bidang Kajian dan Advokasi Kanwil III KPPU turut hadir bersama perangkat daerah dan instansi vertikal yang berada di wilayah Jawa Barat.

 

Deflasi yang terjadi pada Januari 2026 mencerminkan melemahnya permintaan konsumen. Berdasarkan kelompok pengeluaran, deflasi terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang turun 0,91% dengan andil deflasi 0,28%. Secara komoditas, deflasi terutama disumbang oleh cabai merah dengan andil 0,10%. Diikuti oleh cabai rawit, daging ayam ras, dan bawang merah yang masing-masing menyumbang andil deflasi sebesar 0,06%, serta telur ayam ras dengan andil 0,04%. Namun, tak semua harga ikut turun. Pergerakan harga emas perhiasan, tomat, ikan kembung, bawang putih, dan beras menjadi faktor pendorong inflasi di bulan Januari.

 

Ninik menjelaskan umumnya seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat mengalami deflasi secara bulanan, kecuali Kota Bekasi yang mengalami inflasi sebesar 0,07%. Kota Bogor mencatat deflasi sebesar 0,21%, Kota Sukabumi 0,03%, Kota Bandung 0,09%, Kota Cirebon 0,44%, Kota Depok 0,16%, Kota Tasikmalaya 0,05%, Kabupaten Bandung 0,15%, Kabupaten Subang 0,21%, dan Kabupaten Majalengka 0,11%. “Kalau kita lihat selain akibat harga emas, tarif rumah sakit swasta di Kota Bekasi itu mengalami peningkatan, untuk komoditas-komoditas lainnya per kabupaten/kota tidak jauh berbeda”, tutup Ninik.

 

Sumber foto: BPS Jawa Barat

Gambar Berita
Thumbnail 1
Thumbnail 2
Thumbnail 3

BAGIKAN HALAMAN